Saturday, March 01, 2014

Tergerusnya Komunitas

Ada banyak tipe pejalan yang gue temukan. Sebagian besar melakukan perjalanan bareng komunitas, tapi tidak sedikit pula yang (pada akhirnya) memilih untuk menjadi single fighter karena alasan tertentu. Tentu saja tidak bisa kita pungkiri perkembangan pariwisata indonesia tidak lepas dari campur tangan komunitas-komunitas pejalan yang meracuni anggotanya untuk ikut menjelajah negri ini.

Seiring waktu, penggiat jalan-jalan semakin berkembang pesat, semakin banyak traveller yang mencari tiket promo untuk mendapatkan tiket murah ke suatu tempat. Komunitas-komunitas pejalan juga semakin besar dengan semakin banyaknya anggota yang join trip mereka, tapi yang terjadi adalah anggota-anggota ini sebatas join trip, tidak ikut serta merta membesarkan dan menyumbang ide agar komunitas-komunitas ini terus eksis, yang pada akhirnya komunitas-komunitas ini habis dimakan usia tanpa adanya regenerasi.

Ada 2 hal yang menurut gue komunitas-komunitas ini tidak bisa bertahan lama:

1. Tiket pesawat murah yang ditawarkan maskapai-maskapai penerbangan memaksa traveller melakukan perjalanan dengan teman terdekat mereka sendiri, atau bahkan banyak yang pada akhirnya melakukan solo trip. Hal ini berimbas pada banyaknya member yang kehilangan rasa memiliki pada komunitas mereka, sehingga banyak member yang menjadi tidak mempunyai keterikatan untuk harus membesarkan komunitas yang telah melahirkan mereka.

2.  Apa ya, gue sebut saja pengurus komunitas, meskipun bukan pengurus, tapi mereka adalah orang yang aktif dan selalu memberikan ide-ide segar untuk dibawa kemana komunitas ini, jadi sebut saja mereka adalah pengurus komunitas. Nah para pengurus ini sadar bahwa member mereka banyak, bahkan ketika melakukan ajakan trip selalu ramai dengan orang-orang baru yang semangat bergabung dalam trip mereka. Tapi yang dilakukan tidak cukup untuk melakukan regenerasi. Pengurus selalu mencoba melakukan ajakan trip untuk berkenalan dengan orang-orang baru, tetapi tidak untuk menjadikan mereka pengurus yang baru bagi komunitas mereka. 
Buntu, sampai pada akhirnya berujung pada ajakan ngumpul bareng pengurus lama untuk kembali membesarkan lagi komunitas. Hal inilah yang tidak disadari, bahwa pengurus lama tidak lagi aktif di komunitas karena kesibukan dan jadwal trip mereka sendiri-sendiri.
Pengurus terus saja bernostalgia dengan masa-masa kejayaan mereka yang lalu, sehingga lupa bahwa untuk melakukan regenerasi tidak bisa dengan menarik kembali orang-orang lama untuk bergabung, tetapi justru mencari orang baru untuk meneruskan perjuangan mereka. Tentu dengan adanya orang-orang baru akan memicu kecemburuan orang-orang lama karena hilangnya eksistensi mereka di komunitas mereka sendiri, tapi sudah sewajarnya semua orang sadar diri bahwa untuk komunitas terus eksis adalah perlunya regenerasi. Nostalgia memang perlu, tapi bukan satu-satunya cara jitu mengembalikan nama besar komunitas mereka.


:fm: Circa Survive - Your Friends Are Gone

Friday, December 06, 2013

sebuah lelucon

apa yang kita cari dari sebuah perjalanan? murni pendewasaan diri? atau sekedar eksistensi diri untuk diakui orang lain bahwa kita seorang pejalan yang bebas tanpa beban yang sudah kesana kemari menginjakkan kaki yang tidak semua orang bisa datangi? atau kita orang yang peduli dengan lingkungan? atau hanya untuk membuktikan bahwa bumi yang indah ini tidak hanya ada di sekitarnya? atau untuk mencari teman sebanyak-banyaknya? atau apapun itu..

mari kita jujur pada diri kita sendiri, tak usah munafik, cukuplah jawaban-jawaban itu untuk kita sendiri.. 


dalam sebuah perjalanan singkat gue beberapa minggu yang lalu, entah yang keberapa jalan kesana, sebut saja Gunung Api Purba Nglanggeran, dimana gunung ini tergolong pendek dan tak begitu menyulitkan pendaki-pendaki gunung, secara di beberapa track yang nanjak sudah ada tangga yang disemen untuk memudahkan pendaki menikmati pemandangan dari atas; saat itu hari minggu pagi menjelang siang kita ber 6 turun dari puncak gunung ini, mendapati puluhan anak SMA yang sedang dalam perjalanan naik, tanpa bekal logistik, tanpa tas yang menggunung, tanpa kamera, dan tanpa gear outdoor, persis seperti anak-anak muda yang sedang jalan-jalan di mall.. sandal crocs yang seharusnya mereka pakai di kaki akhirnya mereka tenteng di tangan, beberapa sedang menggandeng pasangannya sekedar membantu berjalan di tanah yang licin setelah hujan semalam..

lucu memang, tapi kemudian gue sadar dan tergelitik dengan tingkah laku mereka.. dengan polosnya mereka tak acuh dengan medan yang tak biasa seperti itu, seakan tak peduli dengan peralatan yang dipakai untuk sekedar menikmati keindahan alam pegunungan bersama teman-teman.. 

kemudian gue melihat diri sendiri, apa yang gue kenakan mulai dari kepala sampai dengan kaki lengkap dengan peralatan outdoor, bahkan untuk sekedar tektok di gunung ini gue harus memenuhi isi tas dengan peralatan yang entah terpakai atau tidak, mulai dari kompor, jas hujan, headlamp, pisau, dan segala tetek bengeknya..

seketika gue malu dengan diri sendiri, apa yang gue pakai ini tak berarti apa-apa bagi anak-anak itu, barang yang gue bangga-banggakan dengan harga yang tidak murah, yang selama ini orang-orang bahas di twitter, di forum-forum peralatan outdoor ternyata hanyalah omong kosong bagi anak-anak SMA ini.. yang mereka cari murni foto dan canda tawa bersama teman, fix orang-orang yang gak munafik..

merekalah orang-orang yang setulus-tulusnya mencari kebahagiaan semata dari sebuah perjalanan, dan bisajadi secara tak sadar apa yang mereka alami juga merupakan proses pendewasaan diri.. tak melulu soal peralatan gunung yang canggih dan simple, mereka cukup mengenakan pakaian yang mereka pakai sehari-hari..

gue tidak sedang mentertawakan mereka yang tak mengenakan peralatan outdoor yang lengkap, tapi justru gue sedang mentertawakan diri gue sendiri.. cara hidup yang seharusnya sederhana ini malah gue persulit dengan peralatan gunung yang tetek bengek, padahal yang gue cari juga sama dengan mereka, hiburan di gunung, dan foto.. gue selalu dipusingkan dengan idealisme orang-orang untuk naik gunung, yang secara tak sadar kemudian menjadi idealisme bagi gue sendiri..

Thursday, December 05, 2013

Bencana Alam Untuk Siapa?

kalo kalian ngikutin berita-berita di twitter atau blog orang, atau mungkin blog gue sendiri ini, maka kalian akan mendapati belakangan orang-orang (termasuk gue) sibuk berteriak tentang eksploitasi alam.. lalu masing-masing orang akan ngebully orang yang baru saja jalan-jalan ke suatu cagar alam, sebut saja pulau sempu.. atau kita sedang bersedih dengan situasi Gunung Semeru yang semakin bau dan sangat tidak indah dipandang mata dengan sampah yang menumpuk di pojok Ranu Kumbolo.. atau mungkin kita juga salah satu yang berteriak paling keras terhadap penambangan freeport di Papua.. atau kita adalah orang yang berada di garis depan melawan wisatawan yang berkunjung ke Kiluan, entah dengan alasan lumba-lumba akan terbiasa mendengar suara mesin kapal yang nantinya akan merubah pola hidup lumba-lumba itu atau apalah itu..

tapi pernahkah kita mencoba berfikir mejadi warga sekitar? 
atau mungkin banyak yang belum tahu apa yang dilakukan penambang belerang di Kawah Ijen.. bagi yang pernah dan tahu apa yang dilakukan penambang-penambang ini, mungkin akan berfikir ulang untuk menulis artikel tentang eksploitasi alam.. bahkan gue sendiri melupakan apa yang gue lihat 2 tahun lalu apa yang penambang lakukan di kawah itu.. dan dengan lantang dan bangganya karena telah menjadi bagian dari agen perubahan cinta lingkungan..

seperti yang orang-orang sampaikan, bencana datang seiringan dengan apa yang telah dilakukan manusia akan alam itu.. tapi mari kita refleksikan kembali, apa definisi bencana itu sendiri? sesuatu yang merugikan manusia? manusia yang mana? manusia siapa? 

ketika kita menyebut lumba-lumba akan berubah pola hidupnya karena banyaknya wisatawan yang datang ke rumahnya, kemudian manusia-manusia ini khawatir nantinya tidak akan bisa melihat lumba-lumba itu lagi karena perubahan alam..
atau kita yang ngebully orang di twitter karena ada sebuah foto bunga edelweis di meja kantornya.. atau hanya karena foto seseorang memegang karang ketika sedang menyelam, lalu semua orang kesal dengan ulahnya karena karang akan mati karena kandungan asam kulit manusia, kemudian karang-karang yang indah itu pun akan mati, dan kita menyebut wisatawan itu mengeksploitasi alam dan tidak bertanggung jawab dengan perjalanannya sendiri.. suatu waktu manusia ini akan menyebut inilah bencana alam karena karang-karang tak lagi indah karena kelakuan manusia itu sendiri..

kemudian mari kita membayangkan:
bagaimana bila perjuangan membuat alam ini tetap terjaga ternyata berjalan dengan mulus? manusia dibatasi untuk datang ke cagar alam, manusia tidak lagi dibolehkan menyelam karena khawatir tidak semua orang bisa menepati untuk tidak memegang karang, dan manusia dibatasi naik gunung..
pernahkah kita memikirkan bagaimana nasib pemilik warung di Ranu Pane bila kemudian sepi? ojek tak lagi seramai sekarang, pemilik kapal di Kliuan tak lagi makan nasi setiap harinya karena sepinya wisatawan, tak ada lagi orang yang menyewa rumah Pak Kholiq di Pantai Sendang Biru, penambang belerang di Gunung Ijen banyak yang menganggur..
masyarakat lokal di PHK masal oleh ulah kita sendiri..

dan pada akhirnya kita menyebut ini bencana..

Sunday, November 24, 2013

2 hari untuk selamanya

dalam perjalanan pulang, saat itu awan gelap menjadi hal yang biasa, menemani perjalanan kami selama di Lampung.. iya, tepat seminggu yang lalu aku jalan dengan, sebut saja "temen tiri", adalah semacam kumpulan orang-orang yang gak munafik, setidaknya gak munafik dibanding orang-orang lain disekitarku..



2 hari yang singkat, yang sangat berkesan.. kami ber 6 tidur bersama, makan bersama, dan menghabiskan malam dibawah ribuan bintang yang seakan ikut dalam lingkaran permainan truth or dare kami..

kala itu sedang ada acara pengajian di samping rumah yang kami tinggali karena sehari sebelumnya ada yang meninggal, lalu pergilah kita di sebuah gazebo di bibir dermaga untuk sekedar menggosip, masih seputar percintaan hahaha

aaah, aku bahkan kehabisan kata-kata untuk menceritakan ini semua..

2 hari untuk selamanya...

Friday, September 27, 2013

racun ala pejalan


udah lama banget gak nyentuh ini blog, kalo besi pasti udah karatan kena hujan dan panas haha
well, gue mau nulis keluh kesah lagi soal traveling yang ini gue dapet dari hasil baca-baca di timeline, nah kebetulan banyak akun jalan-jalan yang gue follow.. dari situlah ide-ide untuk mengkritik dunia travelling bermunculan..

mungkin kasus ini udah sering dilakukan oleh semua akun traveling, bahkan sejak dulu, termasuk gue sendiri pelakunya.. tapi baru gue sadari semalem karena twit oleh salah satu akun traveling, yaitu tentang tempat wisata yang wajib lo kunjungi.. yang kemudian gue lagi badmood aja tiba-tiba nyindir twit-twit tersebut..

betapa tidak, yang dilakukan oleh akun-akun traveling di twitter dengan foto-foto tempat wisata untuk memberi "racun" kepada pembacanya gue pikir sebagai proses eksploitasi tempat wisata tersebut, lalu ketika tempat wisata tersebut mulai ramai dikunjungi oleh "turis" ini dan hancur dengan sampah dan ribuan manusia berkumpul secara bersamaan, maka yang dilakukan akun-akun traveling ini adalah menyalahkan "turis-turis" tersebut..

apasih manfaatnya ketika kita menebar "racun".......

lalu apa yang didapat oleh admin-admin ini? kepuasan.. kepuasan telah memberi "racun" kepada follower nya untuk jalan-jalan ke tempat wisata tertentu.. selebihnya mereka akan lepas tangan dengan hancurnya tempat wisata.. tapi permasalahannya, inilah salah satu cara yang disadari untuk menggaet follower, dengan mengikuti "pasar" yang ada, bahwa orang-orang sekarang sedang sibuk travelling dan iming-iming pemandangan yang indah dan berita soal dunia travelling, maka follower akan terus berdatangan..

jadi sederhananya adalah twitpic adalah salah satu cara untuk menggaet follower, namun hal tersebut tidak disadari secara langsung oleh admin-admin travelling, karena memang dampak yang ditimbulkan tidak terlihat dalam jangka pendek, sehingga yang dilakukan adalah sah-sah saja.. mirisnya, akun-akun travelling saling berlomba untuk menampilkan foto-foto terbaik mereka..

sejujurnya menebar racun dengan share foto-foto tempat wisata adalah sesuatu yang tidak salah, bahkan akan ada pembenaran bahwa wisata akan meningkatkan kesejahteraan warga sekitar, namun apakah hal tersebut diimbangi dengan kesiapan warga sekitar dengan dampak yang ditimbulkan? sama halnya dengan sebuah perusahaan yang akan muncul di suatu desa dengan iming-iming terserapnya tenaga kerja dan mengurangi pengangguran di tempat tersebut, namun apakah hal tersebut menjadi cara utama untuk meningkatkan kesejahteraan warga sekitar? tidak, karena dampak negatif yang ditimbulkan tentu akan lebih besar..

jika kita pernah mendengar istilah ekowisata, maka hal tersebut belum sepenuhnya disadari oleh pencari nafkah dari warga sekitar.. disinilah kenapa menebar "racun" kepada follower menjadi hal yang salah, karena dengan menebar "racun" dan para wisatawan berdatangan sama saja kita telah membunuh anak cucu mereka dengan cara kita sendiri..

bukan kita yang salah, bukan juga warga sekitar yang salah, melainkan sistem.. sistem yang memaksa warga sekitar mencari nafkah dari wisata dengan cara yang sesingkat-singkatnya, sebanyak-banyaknya, dan akun-akun twitter mencari follower dengan cara berlomba-lomba menawarkan pemandangan yang paling yahud versi mereka.. dua pihak ini sama-sama mencari keuntungan, sementara pemerintah merasa bangga dengan devisa yang terus bertambah dari sektor wisata (jangka pendek)..





ah ngomong apa sih gue, sok care -__-

Wednesday, April 10, 2013

sometimes

sometimes we get sad about things and we dont like to tell other people that we are sad about them. we like to keep it a secret. or sometimes, we are sad but we really dont know why we are sad, so we say we arent sad but we really are

Monday, April 01, 2013

travelling "jaman sekarang"

oke sebenernya sampai tadi siang gue belum punya ide buat nulis blog lagi, belum mood juga buat cuap-cuap mengkritisi dunia travelling lagi, tapi kemudian gue sadar akan satu hal yang kasus ini mulai menghantui para traveller "jaman sekarang"

gue terinspirasi dengan postingan blog nya Suci Tembangraras yang isinya tentang kangennya si doi bisa jalan-jalan bareng lagi seperti dulu.. dengan serunya perjalanan dia bersama puluhan travelmate nya, yang kalo kata Uci "No itin... no budget., mager. dan gak perlu ngurusin ini itu, persiapan ini.. itu ... just go show......" :((

kalo diinget-inget emang bikin kangen juga bisa jalan seperti itu, tapi apakah masih bisa kita jalan lagi dengan cara seperti itu? kalo gue jawab "enggak!! lo gak akan bisa lagi jalan dengan cara seperti dulu lagi!!" maaf, mungkin kata-kata gue sedikit kasar dan mungkin bisa jadi itu subjektif, tapi kata-kata gue itu bukan tanpa alasan.. kenapa?

pertama: harga tiket murah maskapai penerbangan membuat setiap traveller mencoba mendapatkannya agar bisa keliling indonesia, bahkan keluar negeri, dan gue pun melakukan hal yang sama.. setiap orang sudah mempunyai jadwal terbangnya sendiri-sendiri, dengan travelmate pilihan mereka sendiri-sendiri pula.. sudah tidak ada lagi perjalanan yang secara spontan lo dapet temen baru, kenalan, dan mengembangkan jaringan seperti dulu lagi, yaaa kecuali lo ikut ajakan trip di lapak orang yang lo bakal dapet temen baru.. nah tambahan aja nih, parahnya lagi, orang-orang akan jalan sesuai dengan jadwal harga tiket murah maskapai itu, kalo misal harga tiket murahnya cuma hari 1 dan hari ke-3, maka dia akan jalan selama 3 hari itu doang, miris :(

kedua: harga tiket murah maskapai penerbangan yang murah biasanya akan mempunyai jadwal terbang jauh-jauh hari, artinya orang lain gak akan bisa ikut jadwal terbang lo kalo gak pesen tiket bareng saat itu juga, kalo orang lain pesen tiket deket-deket hari H, artinya dia akan dapet harga tiket yang lumayan mahal.. nah, skali lagi lo gak akan jalan dengan orang selain travelmate pilihan kamu.. 

ketiga: gue yakin sebagian besar para traveller sudah menyimpan jadwal tiket pesawat untuk keluar kota jauh-jauh hari, dan bisa jadi gak cuma 1 tiket pesawat, bahkan ada temen gue yang tahun 2013 ini sendiri udah ngantongin 5 tiket promo pesawat *pusing gue liatnya* :)) yang artinya, dengan tiket pesawat itu dia akan menyisihkan uangnya untuk bisa jalan ke tempat yang sudah dia rencanakan dengan tiket-tiket pesawat itu, pada akhirnya lo gak akan bisa ngajak orang lain untuk jalan bareng di luar rencana perjalanan dia.. kecuali temen lo itu emang punya banyak duit dan punya banyak waktu..

keempat: emang dasarnya sekarang susah cari tiket kereta kelas ekonomi.. udah gak ada lagi yang namanya jalan spontan, karena segalanya pasti sudah kita rencanakan jauh-jauh hari, kalo mau pesen tiket kereta jadi harus cari jadwal dan segala macemnya, sedangkan tiket bis juga muahal, apalagi pesawat kalo dadakan gitu.. yee kaaan? :p jadi daripada jalan spontan, kebanyakan traveller akan mengurungkan niatnya buat jalan santai lagi.. eemmmm kalo kasusnya begini sih jadi gak ada lagi yang namanya jalan santai, semua udah terjadwal, semua jadi dikejar waktu pulang ataupun waktu kerja :((


trus apa dooong yang bisa kita lakukan kalo kejadiannya begini? apa cuma pasrah aja ngliat kita dijajah oleh maskapai penerbangan? 

well, kita emang gak bisa munafik, keliling indonesia adalah cita-cita setiap traveller, dan inilah moment bagi kita buat meraihnya.. meskipun sedikit, tapi gak akan ada lagi orang yang idealis dengan cara jalannya yang sederhana dan tradisional seperti dulu lagi.. 


yaa idealnya sih seperti kata temen gue, ajo:

"jangan sampai perjalanan kita dikendalikan oleh maskapai penerbangan"